Jangan gunakan DNS standart bawaan browser! karena hal itu dapat menghambat aksesmu , Segera ganti DNS Browser kamu agar dapat menikmati kemudahan akses. Lihat caranya di laman facebook Novel Indonesia Terbaik. Pengen tanpa iklan? langganan yuk , kini bisa di bayar belakang! Caranya klik MENU di pojok kanan atas - pilih pages - kemudian pilih Pricing dan silahkan pilih paketnya sesukamu.

Obsesi Ini Part.4


Kamar Mbak Ela hanya berpintukan kain, sehingga aku hanya boleh mengendusi punggung ibu ketika sudah malam saja. Namun, ada kejadian tak mengenakkan suatu ketika. Waktu itu siang hari di rumah nenek. Pagi-pagi kami berkunjung ke bibiku yang satu lagi. Ibuku tiga bersaudara. Kami kembali ke rumah nenek ketika sudah siang.

Waktu itu aku tidak tahan sehingga mengendusi punggung ibu. Namun ibu memarahiku dan melarangku meneruskan kegiatanku dengan ancaman ga dikasih lagi. Maka aku menurut. Kami yang kelelahan akhirnya tidur. Aku bangun duluan. Kulihat ibu masih tidur telungkup dan punggungnya seakan menatap aku menantang, sementara kepalanya menoleh aku yang berarti membelakangi pintu.

“Jangan terlalu lama… Nanti ketahuan…”

Ketika itu, Mbak Ela menyibak pintu kamar dengan memakai handuk saja. Ia terpaku melihat aku dengan posisi begitu. Kemudian seakan tak melihat aku, menutup pintu itu dan kemudian pergi tanpa berbicara apapun. Pada saat itu aku tak banyak pikir, karena sedang horny sehingga aku melanjutkan untuk mengendusi ibu hingga aku tertidur.

Barulah ketika sore hari telah tiba, aku menjadi takut. Apakah Mbak Ela akan mengadukan kami ke nenek? Atau ia akan memberitahukan kelainanku ini kepada orang lain? Namun, ketika aku bertemu Mbak Ela, dengan kikuk ia berkata bahwa ia ingin berbicara kepadaku malam harinya.

Malamnya Mbak Ela dan aku berbicara di kebun belakang di mana tidak ada orang yang dapat mendengar.

“Tadi Mas Hendra ngapain Mbak Mila (nama ibuku)?”

Dengan terbata-bata aku berkata, “cuma cium punggung ibu… Bukan pakai bibir, tapi pakai hidung…”

“Kenapa harus begitu, Mas?”

“Soalnya tubuh ibu wangi, Mbak. Hendra suka. Mbak jangan bilang orang lain ya? Takutnya ibuku yang kena marah orang…”

Mbak Ela menyanggupi untuk tutup mulut. Namun kulihat sorot mata Mbak Ela yang menatapku agak aneh malam itu. Namun namanya anak kecil, aku tidak begitu memperdulikannya saat itu.

Tidak ada insiden lain setelah itu sampai akhirnya kami pulang ke rumah, dan untuk sementara insiden itu terkubur di kepalaku. Ketika saatnya tidur waktu malam, aku mengendusi ibu tanpa takut lagi, karena bagiku, Mbak Ela sudah menyanggupi untuk menjaga rahasiaku ini. Sehingga, tiap siang dan malam aku mengendusi ibu dengan leluasa.

0 Komentar

Awal baca udah kena iklan? sekarang makin banyak yang udah Pakai paket web novel premium. Klik Disini untuk memesan.

Jangan sampai saat membaca novel kena iklan mulu , ribet kan? yuk langsung klik link nya dan pilih paket sesukamu! Pilih Paketnya Disini